Alasan Yogya Ajukan Diri sebagai Kota Warisan Dunia

Tempo.co – Sumbu filosofis dan sumbu imajiner yang dimiliki Yogyakarta menjadi andalan rencana pengusulan Yogyakarta sebagai Kota Warisan Dunia (World Heritage City). Proses persiapan tengah dilakukan sebelum diajukan yang diperkirakan memakan waktu tiga tahun.

“Sumbu filosofis dan imajiner kan cuma satu-satunya yang dimiliki Yogyakarta,” kata Kepala Dinas Kebudayaan DIY Umar Priyono usai membicarakan soal rencana pengajuan tersebut dengan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X di Kepatihan Yogyakarta, Kamis, 25 Februari 2016.

Sumbu filosofis Yogyakarta meliputi dari sisi selatan menuju utara, yaitu dari Panggung Krapyak-Keraton Yogyakarta-Tugu Pal Putih atau Tugu Yogya.

Sultan Hamengku Buwono I menjadikannya sebagai konsep sangkan paraning dumadi. Artinya, nilai filosofisnya terletak pada perjalanan manusia sejak dilahirkan hingga dewasa, menikah, melahirkan anak, dan mempunyai kekuasaan (dari Panggung Krapyak menuju keraton). Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan manusia menghadap Sang Khalik (perjalanan dari keraton ke tugu).

Sedangkan sumbu imajiner adalah garis lurus yang menghubungkan antara Gunung Merapi-Tugu Pal Putih-Keraton Yogyakarta-Pantai Parangtritis.

“Tapi harus ada kajian ilmiahnya. Kami tengah mempersiapkan dokumennya,” kata Umar.

Upaya persiapan menjadikan Yogyakarta sebagai Kota Warisan Dunia telah dimulai sejak 2014 lalu dengan menggelar seminar tentang City of Philosophy. Dalam seminar tersebut dikemukakan bahwa Yogyakarta bukan sekedar nama, melainkan nama dari filosofi kehidupan.

“Kalau lolos, ada kepedulian dunia untuk menjaga eksistensi Yogyakarta. Itu keuntungannya,” kata Umar.

Pemilik Yayasan Stuppa Indonesia, yaitu organisasi pengelola pertunjukkan dan budaya, Wiendu Nuryanti, menjelaskan pertimbangan untuk mengusulkan Yogyakarta sebagai Kota Warisan Dunia aset kebudayaan dan tradisi, baik yang benda maupun bukan benda. Selain sumbu filosofi dan imajiner, juga ada aset-aset kebudayaan lain, seperti benda-benda cagar budaya maupun kawasan cagar budaya.

“Jadi ini Yogyakarta bukan dalam arti kota. Tetapi Yogyakarta sebagai budaya, jadi seluruh wilayah DIY,” kata Wiendu, yang juga mantan Wakil Menteri Bidang Kebudayaan itu.

Dia mengakui, proses persiapannya cukup lama. Contohnya, subak sebagai sistem pengairan di Bali membutuhkan waktu 12 tahun untuk dipersiapkan dan lolos menjadi World Heritage pada 2012. Kemudian Kota Tua di Jakarta tengah dalam proses persiapan yang sudah berjalan 3,5 tahun untuk diusulkan menjadi Kota Warisan Dunia.

“Karena dokumen yang dikirim sering dikembalikan, dikirim lagi, seterusnya karena belum lengkap,” kata Wiendu.